Sistem Koloid

A. Pengertian
Istilah koloid berasal dari kata kolla (bahasa Yunani) yang artinya lem. Istilah ini diperkenalkan oleh Thomas Graham. Dalam hal ini yang dikaitkan dengan koloid adalah sifat difusinya sebab koloid mempunyai nilai difusi yang rendah seperti lem. Pada saat ini, istilah koloid digunakan untuk menyatakan sistem campuran yang sifatnya terletak antara sifat-sifat larutan dan sifat-sifat suspensi. Koloid tidak larut dan tidak mengendap, tetapi terdisperesi (tersebar) di dalam cairan.
Jadi, sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi (+Campuran kasar). Sistem koloid ini mempunyai sifat-sifat khas yang berbeda dari sifat larutan ataupun suspensi. Sistem koloid terdiri atas fase terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut medium dispersi. Fase terdispersi bersifat diskontinu (terputus-putus), sedangkan medium dispersi bersifat kontinu.

1. Perbedaan sifat Larutan, Koloid, dan Suspensi
a) Larutan
 Ukuran partikelnya 100 nm.
 Keruh.
 Fase terdisperesi mengendap jika didiamkan.
 Terdiri atas satu fase.
 Fase terdispersi dapat dilihat dengan mata telanjang.
 Fase terdisperesi tidak dapat dipisahkan dengan penyaringan.
Contoh suspensi antara lain air sungai yang keruh, tanah liat dengan air, pasir dengan air, dan air kapur.
B. Pembuatan Koloid
1. Cara Kondensansi
Kondensasi adalah penggabungan partikel-partikel halus (partikel larutan sejati) menjadi partikel-partikel berukuran besar. Cara ini dapat ditempuh melalui cara kimia dan cara fisika.
a. Cara Kimia
Pada cara ini, partikel koloid dibentuk melalui reaksi kimia, seperti reaksi hidrolisis, reaksi reduksi-oksidasi, atau reaksi subtitusi.
1.) Reaksi Hidrolisis
Reaksi ini merupakan reaksi atau penguraian partikel dengan air. Contohnya adalah sol Fe(OH)3. Sol ini dibuat dengan cara meneteskan larutan FeCl3 jenuh ke dalam air yang mendidih, kemudian diaduk perlahan sampai terebentuk sol yang berwarna merah kecoklatan.
2.) Reaksi Reduksi-Oksidasi
Reaksi reduksi-oksidasi adalah reaksi yang melibatkan perubahan bilangan oksidasi. Contoh koloid yang dibuat melalui reaksi redoks, yaitu sol emas dan sol belerang. Sol emas dibuat dengan cara mereduksikan larutan encer AuCl3 dengan larutan SnCl2 atau larutan FeSO4.
3.) Reaksi Subtitusi
Reaksi ini merupakan reaksi penggantian ion yang digunakan unuk membuat sol As2S3. Sol ini dibuat dengan cara mengalirkan uap H2S ke dalam larutan jenuh As2S3.
b. Cara Fisika
Kondesansi dengan cara fisika adalah dengan jalan menurunkan kelarutan dari zat terlarut. Untuk hal ini, cara yang umum ditempuh ialah dengan jalan pendinginan atau mengubah pelarut. Sebagai contoh, dalam pembuatan sol belerang. Sol belerang dalam hal ini dapat dibuat dengan melarutkan belerang ke dalam air panas, kemudian didinginkan. Dengan cara pendinginan ini, lambat laun akan terbentuk suatu sol.
Belerang mudah larut dengan alkohol, sedangkan dalam air tidak. Bila ke dalam larutan belerang dalam alkohol tersebut ditetesi air, lambat laun akan terbentuk sol belerang, sebagai akibat adanya penurunan kelarutan belerang. Jadi, penambahan air ke dalam larutan belerang dalam alkohol dapat menurunkan kelarutannya.
2. Cara Dispersi
Pembuatan koloid dengan cara dispersi adalah dengan memecah partikel-partikel kasar menjadi partikel-partikel koloid. Cara dispersi dapat dilakukan secara mekanik, peptisasi, dan car busur Bredig.
a. Cara Mekanik
Pada cara ini, partikel kasar diubah menjadi partikel koloid dengan cara digerus, ditumbuk atau digiling dengan mesin penggiling koloid (colloid mill). Partikel hasil penggilingan kemudian didispersikan dalam cairan sehingga terbentuk sistem koloid. Contohnya yaitu dalam pembuatan semen, pigmen, cat, tepung, sol belerang, dan sebagainya.
b. Cara Peptisasi
Pada cara ini, partikel koloid dibuat dengan cara penambahan ion sejenis ke dalam suatu endapan, sehingga memecahkan gumpalan endapan menjadi partikel koloid. Sol AgCl misalnya, dibuat dengan penambahan larutan HCl atau NaCl ke dalam endapan AgCl
c. Cara Busur Bredig
Cara ini disebut juga dispersi elektrolitik. Cara ini diperkenalkan pertama kali oleh Bredig pada tahun 1989. Cara ini umumnya digunakan untuk membuat sol logam. Caranya, logam yang akan dibuat sebagai partikel koloid, ditempatkan sebagai elektrode yang dihubungkan dengan arus listrik bertegangan tinggi. Logam yang sekaligus merupakan elektrode ini kemudian dicelupkan ke dalam larutan elektrolit. Suhu tinggi yang terjadi pada saat arus listrik dialirkan akan menguapkan logam. Uap logam kemudian akan terkondensasi dalam larutan membentuk partikel koloid.

C. Klasifikasi Sistem Koloid
1. Jenis – jenis koloid
System koloid terdiri atas dua fase yaitu fase terdispersi dan fase pendispersi(medium pendispersi).Fase terdispersi adalah partikel-partikel yang didispersikan, sedangkan medium pendispersinya adalah media atau tempat fase terdispersi didispersikan. Baik fase terdispersi maupun medium pendispersi, keduanya dapat berupa zat padat, cair, atau gas.
Berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersinya, dikenal delapan jenis sistem koloid. Tabel berikut menunjukkan kedelapan jenis sistem koloid tersebut.
No Fase Terdispersi Fase Pendispersi Nama Sistem Koloid Contoh
1 Padat Gas Aerosol Asap,debu di udara
2 Padat Cair Sol Sol emas,sol belerang ,tinta,cat
3 Padat Padat Sol padat Gelas berwarna ,intan hitam
4 Cair Gas Aerosol Kabut dan awan
5 Cair Cair Emulsi Susu ,santan minyak ikan
6 Cair Padat Emulsi padat Jeli,mutiara
7 Gas Cair Buih Buih sabun,krim kocok
8 Gas Padat Buih padat Karet busa,batu apung,stirofoam

Dari kedelapan jenis sistem koloid di atas, kita dapat membedannya menjadi 4 (empat) kelompok saja, yaitu :
1.) Busa
Busa merupakan sistem dispersi koloid dengan fase terdispersi gas dalam medium pendispersi cair atau padat. Ada dua jenis busa, yaitu :
a. Busa padat adalah sistem dispersi dari gas dalam medium pendispersi padat. Busa ini biasanya terbentuk pada suhu tinggi dengan medium yang memiliki titik lebur di atas suhu kamar. Contohnya batu apung dan karet busa.
b. Busa buih adalah busa yang terbentuk bila gas terdispersi dalam medium cairan. Contohnya busa sabun, buih ombak, minuman, krim kocok dan lain-lain.
2.) Sol
Sol adalah jenis koloid yang fase terdispersinya padat dalam medium pendispersi cair. Contohnya : air sungai (sol dari lempeng dalam air), sol sabun, sol detergen, sol kanji, tinta tulis, dan cat. Bila medium dari sol ini berupa air, maka disebut hidrosol, sedangkan bila mediumnya alkohol disebut alkosol.
Berdasarkan afinitasnya (daya serap/ daya tarik) terhadap medium pendispersinya , sol dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Sol liofil, yaitu sol yang fase terdispersinya suka akan medium pendispersinya dan umumnya berupa zat organik.
b. Sol liofob, yaitu sol yang fasenya terdispersinya mempunyai afinitas kecil atau menolak medium pendispersinya dan pada umumnya berupa zat anorganik, misalnya sol Fe(OH)3, Agl, AgCl, CaCO3 dan sol belerang.
Berdasarkan bentuk zatnya , sol dibedakan menjadi :
a. Sol padat adalah sol dalam medium pendispersi padat, contoh: paduan logam, gelas warna, intan hitam.
b. Sol cair adalah sol dalam medium pendispersi cair, contoh: cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat.
c. Sol gas adalah sol dalam medium pendispersi gas, contoh: debu di udara, asap pembakaran.
d. Gel, yaitu sistem koloid liofil setengah kaku. Gel ini terbentuk apabila suatu sol hidrofil dipekatkan , sehingga fase terdispersinya menarik lebih banyak air daripada sol hidrofilnya sendiri.
3.) Emulsi
Emulsi adalah sistem dispersi dari satu cairan dalam medium cair atau padat yang tidak dapat bercampur secara homogen, misalnya minyak atau lemak dalam air atau sebaliknya. Emulsi biasanya kurang stabil, contohnya bila kita campurkan minyak dengan air kemudian dikocok. Untuk sementara waktu, minyak dan air dapat bercampur. Tetai bila didiamkan agak lama, maka kedua cairan ini akan memisah lagi. Untuk itu supaya emulsi menjadi stabil perlu ditambahkan zat penstabil emulsi (emulgator=pengemulsi). Emulgator dapat berupa surfaktan yang larut dalam air (misalnya sabun alkali) atau surfaktan yang larut dalam minyak (misalanya lesitin dan sabun alkali tanah). Emulgator lainnya, yaitu deterjen sintesis, kasein, protein, fosfolipida, gom, dan lain-lain.
Contoh emulsi minyak dalam air yaitu santan,susu,lateks.
Contoh emulsi air dalam minyak yaitu mayonnaise,minyak bumi,minyak ikan
Jenis-jenis emulsi antara lain :
a. Emulsi padat adalah emulsi dalam medium pendispersi padat.
Contoh: Jelly, keju, mentega, nasi.
b. Emulsi cair adalah emulsi dalam medium pendispersi cair.
Contoh: susu, mayones, krim tangan.
c. Emulsi gas adalah emulsi dalam medium pendispersi gas.
Contoh: hairspray dan obat nyamuk.

4.) Aerosol
Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas disebutaerosol.Jika zat yang terdispersi berupa zat padat,disebut aerosol padat,jika zat yang terdispersi berupa zat padat,disebut aerosol padat,jika zat terdispersi berupa zat cair disebut aerosol cair. Contoh aerosol padat : asap dan debu dalam udara, contoh aerosol cair : kabut dan awan,

D. Sifat-sifat Koloid
Sifat-sifat koloid anatara lain :
1. Efek Tyndall, di mana terjadi penghamburan berkas cahaya oleh partikel koloid. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengamati efek Tyndall, antara lain
 Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut,
 Sorot lampu proyektor dalam gedung bioskop yang berasap/berdebu, dan
 Berkas sinar matahari melalui celah daun pohon-pohon pada pagi hari yang berkabut.
2. Gerak Brown, yaitu gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan). Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag.
3. Adsorpsi, yaitu peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel. (Catatan : Adsorpsi harus dibedakan dengan absorpsi yang artinya penyerapan yang terjadi di dalam suatu partikel).
4. Koagulasi, yaitu penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.
5. Muatan koloid, yaitu dikenal dua macam koloid, yaitu koloid bermuatan positif dan koloid bermuatan negatif.
6. Koloid pelindung yaitu koloid pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi koloid lain dari proses koagulasi.
7. Dialisis, yaitu dialisis ialah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara ini disebut proses dialisis, yaitu dengan mengalirkan cairan yang tercampur dengan koloid melalui membran semi permeable yang berfungsi sebagai penyaring. Membran semi permeable ini dapat dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati koloid, sehingga koloid dan cairan akan berpisah.
8. Elektroforesis, ialah peristiwa pemisahan partikel koloid yang bermuatan dengan menggunakan arus listrik.
E. Koloid dalam Kehidupan Sehari-hari.
Ada banyak penggunaan sistem koloid baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai industri seperti industri kosmetik, makanan, farmasi dan sebagainya. Beberapa macam koloid tersebut antara lain;
1. Aerosol. Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas disebut aerosol. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat. Contoh aerosol padat yaitu debu buangan knalpot. Sedangkan zat yang terdispersi berupa zat cair disebut aerosol cair. Contoh aerosol cair yaitu hairspray dan obat semprot.
2. Sol. Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair disebut sol. Contoh sol : putih telur, air lumpur, tinta, cat dan lain-lain. Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat padat disebut sol padat. Contoh sol padat : perunggu, kuningan, permata (gem).
3. Emulsi. Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain disebut emulsi. Sedangkan sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat padat disebut emulsi padat dan sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam gas disebut emulsi gas. Syarat terjadinya emulsi yaitu kedua zat cair tidak saling melarutkan.
4. Buih Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih, sedangkan sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat padat disebut buih padat.Buih digunakan dalam proses pengolahan biji logam dan alat pemadam kebakaran. Contoh buih cair yaitu krim kocok (whipped cream), busa sabun.
Gel Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat padat dan bersifat setengah kaku disebut gel. Gel dapat terbentuk dari suatu sol yang zat terdispersinya mengadsropsi medium dispersinya sehingga terjadi koloid yang agak padat. Contoh gel yaitu agar-agar, semir sepatu, mutiara, mentega.

Tentang ssutel

Sri Syarat Utama Telaumbanua; alumni SMK Negeri 1 Gunungsitoli dan saat ini menempuh kuliah jurusan Social Work di STKS Bandung. Menulis, membaca, catur, aritmatika, main tenis meja, bagian dari kegiatan untuk mengisi waktu luang. Tiada kesejahteraan tanpa keadilan!!! Jangan tunggu cukup mampu untuk berkarya, tapi belajar berkarya sedini mungkin!!!
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s